Selasa, 10 Februari 2015

Jakarta oh Jakarta

Jakarta as we know is the capital city of Indonesia.
Jakarta punya pesona yang begitu menawan bagi semua kawula.
Muda - tua akan terpesona dengan gemerlapnya Jakarta.

Aku juga merasakannya di sini, di kota ini.
Puji Tuhan aku mendapat pekerjaan yang sesuai dengan keinginanku dan sesuai dengan basic knowledge yang ku peroleh dari kampusku dulu, Institut Teknologi Del.

Bayaran yang ku dapat juga lumayan, cukuplah untuk menabung biaya kuliahku nanti di bangku S1.

Ya, itu hanya secuil keindahan Jakarta.

Kau juga harus tau kawan gimana rasanya desak-desakan di dalam public transportation disini.
KRL, Transjakarta, kopaja, dan semua onderdil kejakartaan ini harus kau rasakan juga kalau kau mau tau gimana rasanya mencapai sukses dari nilai nol.

Wah, nampaknya terlalu berlebihan ya?
Enggak kok, ini ceritaku apa adanya.
Semua sarana transportasi itu udah pernah ku tumpangi.

Baiklah, bukan itu sebenarnya inti curhatanku kali ini.
Aku sebenarnya mau cerita soal banjir di kota yang begitu menawan ini.

Sering kan melihat tayangan di tivi mengenai banjir di ibukota?
Airnya setinggi apa kawan?
Semata kaki? Sebetis? Itu bukan banjir namanya, itu hanya seonggok genangan air aja.
Kali ini aku betul-betul menyaksikan indahnya Jakarta yang begitu menawan ini.
Banjir yang airnya hampir seperut adalah temanku pagi tadi.

Okay, lemme tell you.

Di kosan aku tinggal, banjir memang hanya selutut dan hujan masih lumayan deras sejak kemarin subuh.
Tapi hujan dan banjir gak datang hanya berdua loh, mereka punya teman dua lagi.
Mati lampu dan mati air.
Amazing!!
Lengkap sudah penderitaanku.

Tadi pagi aku harus berjuang ke kantor untuk mendapatkan asupan listrik dan internet.
Yaaa, di kosan mati lampu sejak maghrib.
Aku tak bisa kerja sama sekali.

Aku dan 1 teman kantorku, sebut saja namanya mbak Peliska.
Dialah temanku yang seide untuk nekat ke kantor padahal di luar sedang hujan dan banjir.

Alhasil, kami pelan2 menyusuri jalanan cempaka mas sampai fly over yang mengarah ke tol tanjung priok.
Banjirnya gila-gilaan -_-
Kalo di sekitar kosan hanya selutut, ini bukan sekedar selutut atau sepaha aja kawan.
Banjirnya hampir seperut.
Otokke!!
Gak mungkin putar balik dan pulang ke kosan.
Dengan tekad bulaat, kami susuri jalanan itu sambil menggendong laptop di pundak.

Jam 9 kami berangkat tadi pagi dan baru tiba di kantor jam 12.10.

Can you imagine how hard is that?
3 jam!!

Untung saja Tuhan baik, aku dan mbak Peliska baik2 aja setibanya di kantor.

Itulah ceritaku.
Begini rasa sulitnya mencari uang di ibukota yang sadis ini, aku harus tetap semangat!

Kau juga kawan, singsingkan lengan bajumu dan angkat dagumu lalu katakan "SEMANGAT"

0 komentar:

Posting Komentar